Edisi 162
From Panca Budi.org
Contents |
Editorial
Al-Hubb, Al-Ilahi dan Al-Ma’rifah
Oleh Gun Teguh Tajudin
(Mantan Anshor Panca Budi)
Pendahuluan
Pembahasan tentang tasawuf telah lama menjadi hal yang menarik, karena sikap keagamaan yang dilakukan para penganutnya atau kaum sufi dalam mencapai kepuasan batin berbeda dari manusia biasa secara umum. Para sufi sendiri adalah orang-orang yang konsen dengan kesucian hati dan jiwanya. Mereka berpendapat bahwa satu-satunya jalan yang dapat mengantarkan seseorang kehadirat Allah hanyalah dengan mensucikan jiwa.
Dalam sejarah tasawuf, Rabi’ah adalah salah seorang tokoh yang sangat penting dimana dialah yang ikut meletakkan kata-kata pertama dalam kamus sufi. Dia yang pertama kali meletakkan konsep mahabbah tentang Cinta Tertinggi dalam Sufisme Islam. Cintanya kepada Allah melebihi kecintaan kepada sesuatu selain-Nya.
Makalah ini akan mencoba menguraikan Biografi Singkat Rabi’ah Adawiyah, Pengalaman dan Pemikirannya, tentang Mahabbah serta Makrifat yang menjadi sebuah istilah populer dalam suatu kajian tasawuf.
Biografi Singkat Rabi’ah Adawiyah
Rabi’ah Adawiyah lahir di kota Basrah tahun 95 H (714 M)dan meninggal dunia pada 185 H (801M). Ia adalah anak ke empat dari sebuah keluarga yang tidak memiliki banyak harta. Namanya sendiri adalah sebuah sebutan yang merupakan pernyataan bahwa ia adalah anak ke empat (Rabi’ah) dari keluarga Ismail Al-Adawi (Adawiyah).
Dokumen sejarah menunjukkan bahwa Rabi’ah berasal dari kaum Mawali al-Atik, yang masih ada hubungannya dengan bani Adwa, dan nama lengkap yang dipakainya adalah nama umum yang dipakai pada saat itu. Al-Atik berasal dari suku Qais sehingga nama Rabi’ah terkadang disebut Qaisiyah.
Walaupun nama Rabi’ah Adawiyah hanya sekedar pernyataan bahwa ia adalah anak ke empat dan tiga orang saudaranya adalah perempuan dari keluarga Ismail Al-Adawi, namun akhirnya nama itu menjadi populer di kalangan penduduk Basrah tempat kelahirannya. Ia sendiri telah hafal al-Quran sejak dalam usia 10 tahun serta ia dikenal sebagai “Ibu Kebajikan”. Sejak kecil telah nampak pada dirinya pancaran sinar ketakwaan dan ketaatan. Tanda-tanda kezuhudan dan kewira’ian (menjauhi barang haram) nampak jelas pada peribadinya. Perwujudan cinta suci kepada Sang Pencipta sudah kelihatan secara nyata.
Allah telah mengaruniakan Rabi’ah ilmu yang sangat dalam bagai samudera. Dia memberikan Hidayah-Nya kepada Rabi’ah lewat ilham dan kedalaman makrifah. Oleh karenanya bukanlah sesuatu yang istimewa bila akhirnya ia menjadi gurunya para ulama dan pembimbing mereka yang sesat, menjadi lentera yang menerangi kegelapan bathin.
Sejak kecil Rabi’ah dibawa Isma’il tinggal di mushallanya yang jauh dari keramaian kota. Ia berharap dengan uzlah ke pinggiran kota, akan dapat membantu mencapai tahapan zuhud. Pada saat itu Basrah berada di puncak perkembangan dan keagungan. Namun Rabi’ah ada diantara orang-orang miskin dan kelaparan yang tinggal di rumah-rumah reot. Cobaan demi cobaan dihadapi Rabi’ah silih berganti, dimulai dari meninggalnya Ayah tercinta yang menjadi tulang punggung keluarga yang selang beberapa waktu kemudian disusul oleh ibundanya, tinggallah ia bersama kakak-kakaknya yang masih dalam usia relatif kecil.
Cobaan berikutnya yaitu kondisi kota Basrah yang tidak aman. Hampir setiap tahun terjadi bencana dan kekacauan yang diperburuk lagi dengan terjadinya kemarau berkepanjangan dan berkembang menjadi bencana kelaparan yang hebat. Keadaan tersebut membuat sebagian penduduk lebih mementingkan kepentingan peribadi. Rasa belas kasihan telah pudar, serta menipisnya persediaan bahan makanan, sedangkan lapangan kerja semakin menciut dan kekerasan-kekerasan mulai muncul. Anak-anak banyak diculik untuk dijadikan hamba sahaya. Rabi’ah sendiri termasuk didalamnya yang telah dijual dengan harga enam dirham.
Sekalipun hidup menderita, ketika teman-temannya ingin membantunya, Rabi’ah menolaknya. Betapapun pahitnya hidup yang dijalani, ia tetap sabar dan tabah. Shalat malam tetap dilakukan secara rutin, dan lisannya tidak pernah berhenti dari berzikir. Istighfar selalu didendangkan, semuanya dihadapinya dengan tabah.
Pemikiran Rabi’ah
Kekuatan sensoris dan bathin Rabi’ah datang secara bersamaan sebagai sinar yang menembus, membuka rahasia yang tersembunyi. Ia tidak meninggalkan tujuan kecuali menjadi ahli ibadah, berdo’a kepada Allah di luar keinginan mengharapkan surga atau oleh kekuatan karena hukuman. Hal tersebut nampak jelas dalam senandung syairnya yang mempunyai arti : “Tuhanku, jika aku menyembah-Mu lantaran
takut api nerakamu, maka bakarlah aku didalamnya. Dan jika aku menyembah-Mu lantaran mengharap pahala Surga-Mu, maka jauhkanlah aku dari padanya. Akan tetapi bila aku menyembah-Mu lantaran ingin bertatap muka kepadamu, maka jangan Kau sembunyikan dariku keindahan-Mu yang abadi.”
Sufisme Rabi’ah tercipta setelah ia menggabungkan pengalamannya sebagai asketis dengan pengabdian
terhadap agama. Pada mulanya ia seperti asketik lain, berdo’a kepada tuhan atas dasar ketakutannya terhadap hukuman dan pengharapan atas balasan pahala dari-Nya. Itulah tujuan asketik. Tetapi ketika ia menjadi sufi dan mendalami arti penyembahan kepada Allah ia menjadi terbebas dari kesedihan hidup dan dari rasa takut akan hari Peradilan.
Sufisme Rabi’ah berkembang menurut kapasitas pembawaan dan keteguhannya, bukan hanya oleh pengajaran, atau dari meniru belaka. Rabi’ah terbakar oleh pancaran cinta dalam pencariannya terhadap essensi Allah. Melepaskan dirinya sendiri dari ciptaan dunia dalam setiap bentuknya.
Mahabbah
Mahabbah (cinta) menurut riwayat diturunkan dari kata hibbat yang merupakan benih-benih yang jatuh ke bumi di padang pasir. Sebutan hubb (cinta) diberikan kepada benih-benih di padang pasir tersebut (hibb), karena cinta adalah sumber kehidupan sebagaimana benih-benih merupakan asal mula tanaman. Ada juga yang mengatakan bahwa mahabbat diturunkan dari hubb, yang berarti “sebuah tempayan yang
penuh dengan air yang tenang”, karena bilamana cinta berpadu di dalam hati dan memenuhi hati, disitu tak ada ruang lagi bagi pikiran tentang selain yang dicintai. Yang lain mengatakan mahabbat adalah diturunkan dari kata hubb artinya. “empat keping kayu penyangga poci air, karena seorang pecinta dengan suka hati menerima apa saja yang dilakukan kekasihnya terhadapnya, penghormatan atau yang tidak berkenan di hati, susah atau senang, belaian kasih atau kekasaran.
Istilah “Cinta” (mahabbat) digunakan oleh ahli teologi dalam tiga arti : Pertama, senantiasa menginginkan objek cinta, dan kecenderungan serta syahwat (dalam asmara), yang dalam arti ini cinta hanya mengacu kepada wujud-wujud ciptaan (makhluk) dan kasih sayang mereka satu sama lain, tapi tidak bisa digunakan kepada Tuhan, yang maha suci dari apa yang seperti itu. Kedua, kemurahan Tuhan dan anugerah-Nya yang berupa keistimewaan kepada orang-orang yang Dia pilih. Ketiga, pujian yang Tuhan limpahkan kepada seseorang karena perbuatan yang baik.
Faham al-hub atau mahabbah buat pertama kali diperkenalkan oleh Rabi’ah al-Adawiyah menurutnya, al-Hub adalah rindu dan pasrah kepada Allah. Seluruh ingatan dan perasaan kepada Allah.8 Diantara syair Rabi’ah yang berkenaan dengan hal ini adalah sebagai berikut :
“Tuhanku, aku terbenam dalam kasihku pada-Mu"
tiada sesuatu yang dapat melenyapkan ingatanku pada-Mu
Tuhanku, cahaya bintang gemerlapan,
Orang-orang tertidur lelap dan pintu istana ditutup rapat
Yang saling mencinta asik berduaan
Sedangkan aku kini bersimpuh di Hadirat-Mu
Tuhanku, malam kini telah berlalu siang akan segera menyusul
Aku gelisah gundah gulana,
Apakah amalku Engkau terima yang membuatku bahagia
Atau Engkau tolak yang akan membuatku nestapa
Demi kemaha perkasaan-Mu ya Tuhan
Aku akan terus mengabdi pada-Mu selama hayatku
Seandainya Engkau usir aku dari ambang pintu-Ku aku takkan
beranjak
Karena cintaku pada-Mu telah membelenggu jiwaku”
Demikianlah ungkapan cinta Rabi’ah kepada Allah yang telah merasuk sukmanya sehingga segala aktifitasnya tertuju hanya kepada-Nya. Sampai akhir hayatnya, Rabi’ah mencintai Sang Pencipta, tidak ada ruang yang tersisa dalam hatinya untuk mencintai sesuatu dengan tulus kecuali Allah.
Syabistari dalam Riyadh Al-Asrar menuliskan, cinta Rabi’ah tidaklah seperti cinta yang dikenal oleh orang-orang Yunani, yang diambil dari pengajaran Plato, juga tidak seperti cinta pada masa pra-Islam yang lebih dekat pada kaum rahib. Ada bayangan kabur dari (pemikiran-pemikiran) Rabi’ah dalam nada-nada dari syair ciptaannya. Seperti dibawah ini:
“Aku cinta pada-Mu dengan dua macam cinta
Cinta yang sungguh-sungguh dan cinta yang tidak patut
Dari cinta yang sungguh-sungguh
Aku sangat menikmati dalam mengingat-Mu
Dan untuk cinta yang patut
Kubutuhkan rahasia-Mu sendiri untuk kulihat
Jadi tak ada rasa syukur bagiku, dalam kedua cinta itu,
Rasa syukur hanya kepada-Mu.”
Beberapa tokoh sufi menjelaskan arti dibalik syair terkenal ini, sebagai pelajaran lain Sufisme yang bersumber dari sisi luar. Mereka menyimpulkan tentang cinta kembar, atau ada dua macam cinta yang menjadi rujukan Rabi’ah.
Mereka menginterpretasikan cinta jenis pertama sebagai cinta seorang sufi yang tidak lebih sebagai ibadat/ penyembahan seorang hamba. Hal ini kemudian beralih kepada sesuatu pengenalan atau penampakan Wajah Allah. Untuk cinta jenis kedua, interpretasi al-Makki sebagai berikut:
“ini adalah sublim cinta bagi keagungan Allah. Ia datang bukan dari ambisi atau rasa suka cita. Tidak pula patut mendapatkan balasan”
Para ahli tafsir setuju bahwa dua macam cinta itu sungguhsungguh yang nyata hanya untuk Allah sendiri. Mereka juga setuju dengan cinta jenis kedua: Bahwa Allah yang paling patut dimuliakan. Dia mengizinkan Rabi’ah untuk melihat wajah-Nya pada pertama kali dan kedua kalinya. Abu Hamid al-
Ghazali dalam bukunya Ihya Ulumuddin menafsirkannya dengan menulis: “Rabi’ah dalam cintanya yang sejati mengartikan sebagai hanya cinta milik Allah, beserta kebajikan dan kemurahan hati-Nya. Mencintai Allah untuk kemuliaan-Nya yang dijadikan-Nya jelas bagi Rabi’ah untuk melihat. Dan
hal itu lebih tinggi dari dua jenis cinta”.
Hal yang lebih tinggi dari dua jenis cinta, sesuatu yang lebih berharga dimata al-Ghazali, menghasilkan kesadaran akan kerinduan pada Wajah Allah, dan berterima kasih atas karunia-Nya. Hal itu memenuhi pikiran secara total akan ingatan tentang dunia. Secara keseluruhan Rabi’ah tidak
menemukan diri sendiri dalam kemuliaan cinta. Sebaliknya, ia merasa betapapun keras mencoba, ia mungkin tidak mendapat balasan pada Hari Akhir. Ia sering ketakutan bahwa dirinya tidak bekerja secara memadai, sehingga ia meniadakan diri sendiri dalam pemujaan. Allah-lah yang menuntun dan memberi makna cinta tertinggi. Dari-Nya datang inspirasi yang mengartikan bahwa Cinta Tertinggi
adalah terbebas dari rantai yang membelenggu kaki.
Rabi’ah dalam cinta kembarnya menemukan keberkahan hati, ia juga menemukan sebuah anugerah yang datang seiring dengan penderitaan. Ia mengalami semacam kebebasan spiritual dalam penderitaan. Tetapi pemikiran tunggalnya dan perenungan juga dapat melumpuhkan rasa sakit raganya. Kaum orientalis, mahasiswa barat yang belajar di Timur, sangat tidak adil terhadap Rabi’ah. Tak seorangpun melakukan penyelidikan psikologi secara khusus atau menyusun studi untuk membuka hal yang masih tersembunyi dari kehidupan Rabi’ah dan membawa cahaya kebenaran. Mereka sering
menjelaskan cinta Rabi’ah yang lebih tinggi sebagai umumnya semata cinta karena nafsu. Sebab mereka tidak menemukan orang terdahulu yang cintanya sama seperti Rabi’ah. Mereka menjadi curiga akan latar belakang Islamnya dan pengajaran-pengajaran sufistiknya.
Dalam ajaran Kristiani, cinta adalah agama. Kristus semoga damai atasnya, pengembara yang berkhotbah untuk cinta, dan sejarah kristiani penuh dengan kehidupan para Santo dan Santa, laki-laki dan perempuan yang sujud di gereja-gereja atau biara-biara memisahkan diri dan meninggalkan kehidupan duniawi.
Para peneliti tidak mempertimbangkannya sebagai cinta nafsu, melainkan menyebutnya cinta ideal, seperti yang dikhotbahkan kristus, semoga damai atasnya. Istilah “Cinta menyala-nyala” tidak disebutkan dalam al-Quran, juga tidak dalam sunnah Nabi. Sebab hal tersebut mengandung arti
sesuatu dibalik cinta. Jadi hal itu tidak mempunyai arti kecuali bagi seseorang yang melangkah lebih jauh dari pengertian normal tentang arti kata-kata tersebut.
Sufisme Islam, pada konsepsi dan kehidupan, mirip sebuah kota yang dikelilingi dinding tinggi, dengan para penjaga diatasnya, tak seorangpun boleh masuk tanpa izin. Sufisme mempunyai bahasa tersendiri serta simbol-simbol secara khusus, dan kata-kata rahasia yang mematahkan mata
rantai dan membuka semua kunci. Bahasa sufi yang benar kamusnya ada dalam pikiran dan ekspresi orang sufi itu sendiri.
Ma’rifah
Harus diketahui bahwa terdapat perbedaan yang besar dalam pandangan yang menyangkut ma’rifat dan pengetahuan yang benar tentang Allah. Kaum mu’tazilah menyatakan bahwa ma’rifat bersifat intelektual dan hanya orang yang berakal (‘aqil) yang dapat memilikinya. Doktrin ini ditolak oleh fakta bahwa orang gila, di dalam Islam, dapat mempunyai ma’rifat, dan anak-anak, yang tidak berakal, dapat mempunyai iman. Sekiranya ukuran ma’rifat adalah intelektual, orang-orang seperti itu tentu tidak berma’rifat, sementara orang-orang yang tidak beriman tidak bisa disebut kafir hanya karena mereka berakal. Jika akal merupakan sebab ma’rifat, akibatnya setiap orang yang berakal mesti mengenal Allah, dan semua orang yang kehilangan akal mesti tidak mengenal Allah. Hal ini jelas aneh sekali. Pihak lain mengatakan bahwa pembuktian dengan dalil adalah sebab dari pengetahuan tentang Tuhan, dan bahwa pengetahuan seperti itu tidaklah didapat kecuali oleh orang-orang yang merumuskannya dengan cara ini.
Ma’rifat sendiri adalah sejenis pengetahuan dengan mana para sufi menangkap hakikat atau realitas yang menjadi obsesi mereka. Ma’rifat berbeda dengan jenis pengetahuan yang lain, karena ita menangkap objeknya secara langsung, tidak melalui representasi, atau simbol dari objek-objek
penelitiannya itu.
Seperti indra menangkap objeknya secara langsung, demikian juga hati atau intuisi menangkap objeknya secara langsung. Perbedaannya terletak pada jenis objeknya. Kalau objek indera adalah benda-benda indrawi (mahsusat), objek-objek intuisi adalah entitas-entitas spiritual (ma’qulat). Dalam kedua modus pengetahuan ini, manusia mengalami objeko-bjeknya secara langsung, dan karena itu ma’rifat disebut sebagai ilmu eksperiensial (dzauqi), yang biasanya dikontraskan dengan pengetahuan melalui nalar (bahtsi). Tetapi, walaupun sama-sama melalui pengalaman seseorang, hubungan orang itu dengan objeknya berbeda. Dalam pengenalan indrawi, objek-objek itu berada di luar dirinya, dan dikaitkan dengannya melalui representasi, sedangkan objek-objek intuisi, hadir begitu saja dalam diri orang itu, dan karana itu sering disebut ilmu Hudhuri dan bukan ilmu Husuli, yakni ilmu yang diperoleh melalui latihan dan percobaan.
Ma’rifat dapat dibedakan dari ilmu-ilmu rasional, dimana pemilahan antara subjek dan objek begitu dominan dan jarak antara keduanya sangatlah lebar. Walaupun ilmu-ilmu rasional atau tepatnya akal sama-sama menangkap objek-objek ma’qulat, sebagaimana intuisi, tetapi cara keduanya berbeda.
Sementara akal menangkap objek-objek nonfisik melalui objek-objek yang telah diketahui, jadi bersifat inferensial, intuisi menangkap objek-objeknya langsung dari sumbernya, apakah
Tuhan atau malaikat, melalui apa yang dikenal sebagai “penyingkapan” (Mukasyafah) atau “penyinaran” (Iluminasi) dan “penyaksian” (Musyahadah). Penyingkapan ini bisa terjadi dalam keadaan jaga atau mimpi, dapat mengambil bentuk ilham atau wahyu, atau terbukanya kesadaran hati akan kenyataan yang selama ini tersembunyi demikian rapat.
Ma’rifat tidak dapat diraih melalui jalan indrawi, karena menurut Jalaluddin Rumi hal itu seperti mencari-cari mutiara yang berada di dasar laut hanya dengan datang dan memandang laut dari darat. Ma’rifat juga tidak bisa diperoleh lewat penggalian nalar, karena itu akan sama seperti orang
yang menimba laut untuk mendapatkan mutiara itu. Untuk memperoleh mutiara ma’rifat, seseorang membutuhkan penyelam ulung dan beruntung; dengan kata lain butuh seorang mursyid yang berpengalaman. Bahkan sekali lagi Rumi mengingatkan bukan hanya sekadar penyelam ulung, tetapi juga beruntung, yakni bergantung pada kemurahan Tuhan, karena tidak semua kerang yang ada di laut
mengandung mutiara yang didamba.
Seperti yang telah dikemukakan bahwa ma’rifat berdasar pada pengalaman; artinya ia harus dialami, bukan dipelajari. Seperti untuk memahami manis, akan bisa dengan mudah dilakukan dengan mencicipi gula. Mencoba memahaminya lewat keterangan orang lain, atau membaca buku akan memperoleh pengetahuan yang semu. Paling maksimal kita hanya akan bisa menghampirinya tanpa bisa menyentuhnya.
Ma’rifat tidak bisa dipelajari dari buku, bahkan buku para sufi sekalipun. Namun ketika kita datang kepada seorang Mursyid, maka ia akan mengajak kita melakukan disiplin-disiplin spiritual yang keras, agar kita mengalami pengalaman-pengalaman mistik atau keagamaan sendiri dan dengan begitu
kita bisa mencicipinya sendiri. Bagi seorang sufi, buku hanyalah simbol, karena terdiri dari huruf-huruf yang tidak lain dari pada simbol yang disepakati.
Perbedaan lain antara ma’rifat dan jenis pengetahuan lain adalah cara memperolehnya. Jenis pengetahuan biasa diperoleh melalui usaha keras, seperti belajar, merenung dan berpikir keras melalui cara-cara berpikir yang logis. Jadi, manusia memang betul-betul berusaha dengan segenap
kemampuannya untuk memperoleh objek pengetahuannya. Tetapi makrifat tidak bisa sepenuhnya diusahakan manusia. Pada tahap akhir semuanya tergantung pada kemurahan Tuhan. Manusia hanya bisa melakukan persiapan dengan cara membersihkan diri dari segala dosa dan penyakit-penyakit jiwa lainnya atau akhlak yang tercela. Ibarat kaca yang dipasang untuk menerima cahanya matahari ke dalam rumah hati kita, kaca tersebut harus senantiasa dibersihkan dari segala debu yang menempel di permukaannya, agar ketika sinar matahari masuk atau hadir, kaca kita siap mengantarnya masuk ke
dalam jantung rumah kita dan memberi cahaya kepada sekitarnya. Dengan begitu terjadilah iluminasi terhadap benda-benda yang ada di sekitarnya dan membuat benda-benda yang tadinya tidak tampak atau remang-remang menjadi jelas dan cemerlang.
Penutup
Rabi’ah Adawiyah seorang wanita yang mempunyai derajat luhur dalam perjalanan sejarah sufi. Ia memperoleh penghargaan tinggi, namanya tertulis dengan tinta emas dalam lembaran sejarah. Prestasi takwa dan zuhud yang ia miliki telah mengangkatnya kepada kedudukan luar biasa, yang tidak pernah dicapai wanita lain.
Jiwa dan semangat keras yang ia miliki bermuara dari perasaan cinta yang luar biasa kepada sang khalik. Cinta inilah yang telah merubah wawasan, pola pikir, serta perilaku dalam hidup keseharian. Cinta ini pulalah yang memotivasi dirinya untuk selalu beramal sepanjang hidup. Ia mengajak manusia
berbagi rasa dalam bertakwa. Mencintai Allah melebihi segala yang ada. Mengesampingkan urusan dunia yang bersifat sementara dan fana. Setiap langkah perjalanan waktu diprioritaskan kepada ibadah serta mencintai Allah SWT. Di lubuk hati yang paling dalam tak pernah tersentuh perasaan cinta, kecuali kepada Allah semata.
Keimanan Rabi’ah hampir mendekati sempurna dalam agama dan menjelajahi atmosfirnya. Rabi’ah menjadi orang pertama yang mendapat kehormatan untuk mengekpresikan Cinta tertinggi dalam ketulusan dan kebenaran. Ia adalah guru Sufi Luar Biasa dan teladan utama kesalehan, iman dan pengetahuan yang pasti (ma’rifat) seperti para penganutnya Dzun Nun al-Mishri, Ibnul Farid dan Ibnu Arabi serta lain-lainnya yang mengikuti jalan sufi dan mencapai derajat kesucian.
Kegiatan
Kegiatan Yml. ABU H. Abdul Khalik Fajduani
03 Maret 2007
Pukul 10.00 - 10.45 WIB menghadiri penandatanganan naskah kesepahaman (MoU) kerjasama antara Fakultas Metafisika Universitas Panca Budi dengan Badan Koordinasi Kesurauan di ruang seminar gedung A Lt. II yang dihadiri oleh 19 orang peserta terdiri dari unsur UNPAB dan BKK.
04 Maret 2007
Pukul 10.00-11.00 menghadiri kegiatan dialog interaktif di Auditorium Lt. II Rumah Besar dengan
tema ”Mencari Kesempurnaan Untuk Mencapai Shalat Khusuk” yang diprakarsai oleh kelompok “Penggagas
shalat Khusuk Anshor” yang diketuai Ab. Minun Abdullah dengan anggota berjumlah 12 orang. Acara tersebut turut dihadiri oleh: Ab. Bami Abdul Madjid, Ab. Zulfi Imran, Ab, Hikmawan, Ab. Ahmad Irwansyah, Ab. Agus Catur dan Ab. Aris Saputro pukul 11.00-12.30 di lanjutkan dengan simulasi pelatihan menjadi wirausaha sukses.
11 Maret 2007
pukul 11.00 - 12.00 WIB di Auditorium Lt. II menerima rombongan BKS Bali, sekaligus mendengarkan laporan tentang pelaksanaan pelatihan Out bond di wilayah BKS Bali. Turut hadir juga beberapa
pimpinan unit di lingkungan Kampus Panca Budi serta pengurus BKS se-Sumatra Utara dan NAD. Pada
kesempatan tersebut divisi Pengembangan Sumber Daya Anshor (PSDA) KDA menyampaikan beberapa program
kerja sebagai informasi baru khususnya bagi BKS Bali. Acara diakhiri dengan salam-salaman.
18 Maret 2007
pukul 16.30 - 18.00 WIB menghadiri Pelatihan Komunikasi dan Kepribadian Menarik yang dilaksanakan oleh pengajian Hasifah di ruang multimedia gedung E kampus Panca Budi. Pada kesempatan tersebut beliau menyampaikan resume tentang materi pelatihan tersebut.
21 Maret 2007
menghadiri pelatihan Public Speaking II di ruang multimedia gedung E dengan nara sumber Kak
Ramadani Hidayatin. S.Pi dan Mariono. S.Ag (da’i Rio) TPI. Pada pelatihan ini di antara 25 orang peserta yang terdiri dari unsur pegawai di lingkungan Kampus Panca Budi nampak hadir juga Ibu Nelmi dan YM. Bunda Amanah.
23 Maret 2007
pukul 08.30 - 11.15 WIB di Auditorium lantai II memberikan taushiyah pada Coffe Morning yang
diadakan oleh Kampus Darul Amin. Turut hadir diantara para kepala bagian KDA adalah sebagai berikut: Ab. Suhendro, Ab. Zulfi Imran, Ab. Hikmawan, Ab. Aris Saputro, Ab. Agus Catur dan Ab. Zuladin. Pada kesempatan tersebut beliau menyampaikan materi Leadership, Paradigma, Budaya dan visi.
24 Maret 2007
pukul 15.00 - 17.30 WIB mengahadiri pelatihan Pengembangan Diri Sukses di ruang seminar Gedung A Lantai II Kampus Panca Budi. Sebagai nara sumber adalah Peter Lim, MBA seorang penulis pada kolom Motivasi dalam harian bisnis. turut hadir pada kesempatan tersebut Ab. H.M. Isa Indrawan (Rektor UNPAB), Ab. H. Ahmad Tufik, (Inspektur Perguruan) dan sekitar 100 orang undangan lainnya.
27 - 28 Maret 2007
menghadiri pelatihan Tecnology Of Participation (TOP) yang di adakan oleh Universitas Panca
Budi di ruang multimedia gedung E Panca Budi. sebagai Fasilitator Ab. Hamdani Harahap, Ab. M Toyyib Daulay dan Ab. M. Marahadi Siregar.
29 Maret 2007
mengahadiri pelatihan Komunikasi & Kepribadian Menarik di ruang multimedia gedung E Kampus Panca Budi. Jumlah peserta adalah Ikhwan BKS Simalungun. yang berjumlah 37 orang. Pada kesempatan
tersebut beliau menyampaikan resume tentang materi pelatihan tersebut.
31 Maret 2007
menghadiri pelatihan Komunikasi dan Kepribadian Menarik di ruang multimedia Gedung E Panca Budi. Peserta adalah Ikhwan Medan dan Team Wisata Da’wah BKK yang akan bertugas pada bulan April - Mei 2007. Setelah itu beliau memberikan pembekalan kepada 38 orang anggota Team Wisata Dakwah BKK.
Kegiatan Ibu-ibu Hashifah
Hari Ulang Tahun Ke-2 Pengajian Hashifah
Satu hari sebelumnya, Sabtu 18 Maret 2007 Hashifah mengikuti kegiatan Out Bond serta Pelatihan Komunikasi dan Kepribadian Menarik dengan fasilitator team BiCA.

Pada acara taushiyah yang diadakan pada malam harinya. YM. Abu menyampaikan bahwa pengajian Hashifah merupakan kelompok kecil dalam tariqat. Hashifah diharapkan menjadi model bagi ibu-ibu TN di seluruh dunia.
YM. Abu juga menceritakan sebuah kisah seorang perempuan yang merasa kesepian dan tidak nyaman hidup di dunia karena tidak terampil berbuat baik dan menghargai orang lain. Berkaitan dengan cerita tersebut beliau membacakan puisi sebagai berikut:
Aku ingin berjalan ke suatu tempat
Tempat kebahagiaan.
Aku berjalan, tiba-tiba
Aku terperosok kesebuah lubang yang dalam
Aku berlumuran tanah.
Aku pulang lagi, aku ganti pakaianku
Aku berjalan lagi melalui jalan itu dengan hati-hati
Agar tidak terjatuh lagi.
Aku sudah hati-hati, aku terperosok lagi ke lubang itu.
Aku pulang lagi, aku ganti pakaianku
Aku berjalan lagi dengan lebih hati-hati
Aku hampir bisa melampauinya
Tetapi aku terperosok lagi ke lubang yang sama
Tidak sampai aku ke rumah kebahagiaan
Aku pulang lagi dan kuganti pakaianku
Dan aku memilih jalan yang lain.
Selama ini aku menempuh jalan pembalasan,
Jalan kekerasan dan kemarahan.
Sekarang aku beralih ke jalan yang lain,
Jalan kemaafan, kasih sayang, dan kesabaran.
Selanjutnya beliau menekankan bahwa, ketika seseorang merasa disakiti, tidak dihargai janganlah ia membalasnya dengan yang lebih besar dan lebih banyak dari yang dirasakan.
Untuk itu pilihlah jalan akhlakul karimah. Intinya bermuara pada satu titik yaitu menjadi hamba Allah yang baik, dan Insya Allah, dengan pertolongan Allah Swt tidak lagi tidak lagi menempuh jalan penuh jebakan, tetapi jalan penuh syukur dan suka cita dan inilah Hashifah. Selanjutnya beliau menutup kegiatan dengan do’a.
“Jangan lihat pahitnya kehidupan, tapi lihatlah keindahannya”. demikian tema spanduk hari ulang tahun ke-2 pengajian Hashifah Kampus Panca Budi yang diperingati pada tanggal 19 Maret 2007 di ruang multimedia gedung E pukul 15.00-16.00 WIB.
Seluruh peserta nampak ceria dan penuh suka cita, terlebih ketika pengambilan fhoto bersama sesaat sebelum rangkaian acara dimulai oleh protokol Kak Uni Ernawati pada pukul 15.00 WIB.

Pemotongan tumpeng, dilaksanakan tepat pukul 15.15 WIB dan dilanjutkan dengan menyanyikan lagu ulang tahun dan lagu Darul Amin yang dipandu oleh Gruop Band Remaja Masjid Panca Budi. Dengan penuh ceria, para peserta saling tukar kado dan membacakan isi pesan.
Acara selanjutnya laporan pertanggungjawaban dari ketua Hasifah periode 2006-2007 dan pemilihan ketua periode 2007-2008 yang dipandu oleh Ab. Hikmawan. Pada kesempatan tersebut YM. Bunda Amanah KY sebagai ketua periode 2007-2008. Acara ditutup dengan do’a oleh Ibu Nelmi.
Kegiatan BKK
Kegiatan Mesjid Jami' Darul Amin
Kegiatan PSDA
Kegiatan BKS
BKS Bondowoso
BKS Sulawesi Tengah
BKS Simalungun
Kegiatan Universitas Pembangunan Panca Budi
Kegiatan Perguruan Panca Budi
Profil Ikhwan
Kata Mutiara
Mutiara Rasul
Rasulallah Saw bersabda bahwa Allah “Azza wajalla berfirman:
“Anak Adam mendustakan Aku padahal tidak seharusnya dia berbuat demikian. Dia mencaci Aku padahal tidak seharusnya demikian. Adapun mendustakan Aku adalah dengan ucapannya bahwa “Allah tidak akan menghidupkan aku kembali sebagaimana menciptakan aku pada permulaan”. Ketahuilah bahwa tiada ciptaan (makhluk) pertama lebih mudah bagiku daripada mengulangi ciptaan. Adapun caci-makinya terhadap Aku ialah berkata. “Allah mempunyai anak”. Padahal Aku Maha Esa yang bergantung kepada Ku segala sesuatu. Aku tiada beranak tiada puladiperanakandan tidak ada seorang pun yang setara dengan Aku.”
(HR.Bukhari)
Mutiara Orang Sukses
Seorang pekerja ikhlas memiliki kapasitas yang besar dan kejernihan pandangan. Selain itu hidupnya yang penuh keberuntungan digunakan untuk memberi manfaat sebanyak mungkin. (Farid Poniman-Indrawan Nugroho-Jamil azzaini)
Mutiara Kisah
Kisah Beruang
Seekor beruang yang bertubuh besar sedang menunggu seharian dgn sabar ditepi sungai deras, waktu itu memang tidak sedang musim ikan. Sejak pagi ia berdiri disana mencoba meraih ikan yang meloncat
keluar air. Namun,tak satu juga ikan yg berhasil ia tangkap. Setelah berkali-kali mencoba, akhirnya..hup .. ia dpt menangkap seekor ikan kecil.
Ikan yang tertangkap menjerit-jerit ketakutan, si ikan kecil itu meratap pada sang beruang, “Wahai beruang, tolong lepaskan aku.” “Mengapa ? “ tanya beruang. “Tidakkah kau lihat, aku ini terlalu kecil, bahkan bisa lolos lewat celah-celah gigimu,” rintih sang ikan. “Lalu kenapa?” tanya beruang lagi. “Begini saja,tolong kembalikan aku ke sungai, setelah beberapa bulan aku akan tumbuh menjadi ikan yang besar, di saat itu kau bisa menangkapku dan memakanku utk memenuhi seleramu.” kata
ikan. “Wahai ikan, kau tahu kenapa aku bisa tumbuh begitu besar?” tanya beruang “Mengapa,” ikan balas bertanya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Karena aku tidak pernah menyerah walau sekecil apapun keberuntungan yang telah tergenggam di tangan !” jawab beruang sambil tersenyum mantap. “Ops !”teriak sang ikan. Dalam hidup, kita diberi banyak pilihan dan kesempatan. Namun jika kitatidak mau membuka hati dan mata kita untuk melihat dan menerima kesempatan yang Tuhan berikan maka kesempatan itu akan hilang begitu saja. Dan hal ini hanya akan menciptakan penyesalan yang tiada guna di kemudian hari, saat kita harus berucap ”Ohhhh... andaikan aku tidak menyianyiakan kesempatan itu dulu ..!!!?. Maka bijaksanalah pada hidup, hargai setiap detil kesempatan dalam hidup kita.
Disaat sulit, selalu ada kesempatan untuk memperbaiki keadaan;....
Disaat sedih, selalu ada kesempatan untuk meraih kembali kebahagiaan; ....
Di saat jatuh selalu ada kesempatan untuk bangkit kembali; ....
Dan dalam kondisi terburukpun selalu ada kesempatan untuk meraih kembali yang terbaik untuk hidup kita....
Bila kita setia pada perkara yang kecil maka kita akan mendapat perkara yang besar. Bila kita menghargai kesempatan yang kecil, maka ia akan menjadi kesempatan yang besar.
(Disadur dari: Artikel Motivasi, Ayo Donk Online)

